Menjadi Programmer Wanita (Part 3)

Bagi yang baru baca, biar nyambung, silahkan baca yang part 1 dan part 2 dulu yah *hehehehe pede*…

Kisah ini lanjutan dari part 2 ! Hehe. Langsung aku mulai saja!

Musim silih berganti, tukang sayur yang jualan di deket rumah sekarang sudah ga ada, sampe-sampe temen yang jomblo akhirnya dah nikah, aku pun dengan rasa galau masih stuck menunggu hasil tes di perusahaan A yang sebelumnya ku datangi.

(……………………….)

CUT CUT !!!…. (Cerita diatas hanya pengantar hiperbola lebay wkwkwk).
Skip skip!

Mulai serius!

Ya, jadi ceritanya… kan mba-mba resepsionis menyuruhku untuk menunggu kabar sekitar semingguan, jadilah kutunggu sampe seminggu, tapi hingga seminggu lebih pun kutunggu telpon tak juga datang.

Sedih! Iya sedih bangeettt! Aku sudah merasa kalau aku bakal ditolak, tapi sebesar-besarnya rasa itu, masih ada sepercik harapan donk pastinya.. nah harapan itu yang bikin sesak ketika kita tau ternyata hasilnya ga sesuai dengan kenyataan (azeek xP).
Makjleb! ditolak perusahaan itu seperti ditusuk! Rasanya seperti dibuang, ga dibutuhkan, dan rasanya itu seperti ketika kita tau ternyata orang kita sukai udah punya pacar (ini LEBAY, skip).

Tenang … masih ada perusahaan B yang waktu itu aku lamar juga. Hehe.. masih ada cadangan..

Perusahaan B pun memanggilku untuk datang ke kantornya. Ketika sampai di alamatnya, ku lihat ruko kecil dengan komputer-komputer dan kursi yang saling berjajar seperti ala warnet-warnet “game online”, letaknya di pinggir jalan, dan depannya terlihat pemandangan dengan sawah luas membentang (maklum tempatnya emang rada ngetannya Jogja, jadi banyak sawah). Anginnya pun sejuk sepoi-sepoi, tak banyak motor dan mobil lalu lalang, hawanya pun adem dan tenang. Ku lihat dua orang duduk di ruko itu. Ya! Hanya dua orang, dan ternyata salah satunya adalah owner nya, jadi karyawannya cuma satu pemirsa. Hehe.

Eh pas masuk ke kantornya ternyata ga di tes donk (bahagia), tapi cuma di interview doank dan langsung diterima, terus karena penasaran langsung ku tanya saja,
Maaf pak, kok ga ada tes?” tanyaku (cari masalah).

Iya soalnya ga efektif kalau tes di tempat, biasanya orang ga fokus”, jawabnya.

“Wah keren sekali bapak ini bisa mengerti rasanya jadi fresh graduate”  gumamku dalam hati, wkwk (kalau bapak baca ini, makasih loh pak, karena bapak saya bisa menjadi seperti sekarang hehe).

Akhirnya setelah lega dapat tempat kerja baru, aku putuskan untuk resign menjadi “Data Entry”. Tapi perasaan gelisahku muncul karena aku baru tau ternyata kalau mau resign harus one month notice dulu, baru boleh keluar. APADAYA karena tanggung baru kerja setengah bulan jadi “Data Entry”  dan sudah terlanjur janji ke kantor baru untuk kerja di bulan depan, jadinya aku pun nekat untuk keluar tanpa ijin (resign diem-diem wkwkw *jangan ditiru ya ini ga baik*).

Nah pas sudah satu bulan jadi “Data Entry”akhirnya aku pun resign dan siap untuk masuk ke kantor baru, dan pas pertama kalinya masuk ke kantor baru,… Jeng jeng!! tiba-tiba supervisor di kantor lama meng-sms ku dengan kalimat teguran (pas ku baca langsung deg-degan dan gemetaran! Rasanya kaya mau nangis di tempat HAHAHA).

Isi smsnya adalaaaahhhh….. jeng-jeng!

Lanjut di part 4 ya . Hehe…. ikutin terus! *tangan udah mulai pegel mau ketik*

Jaa! Mata ashita nee~ ^^

Advertisements

9 thoughts on “Menjadi Programmer Wanita (Part 3)

    • Iya mbaa, kalo misal mba belum kuliah bisa ambil jurusan sistem informasi, dan sering ikut acara “female developer” supaya bisa tambah wawasan dan sesama teman cewek programmer juga. ☺

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s