Ketemu Calon Suami Cuma 3 Kali ? (Kisah Nyata)

Halo halo, kali ini saya mau ceritain kisah nyata teman SMA saya, sebut saja namanya Mawar hihihi,

Mawar itu asalnya dari Aceh dan anaknya Alhamdulillah baik, pintar dan solehah. Sejak SMP, Mawar dan kakak perempuannya memang disekolahkan oleh kedua orang tuanya di Jogja dan tinggal bersama keluarga sepupunya yang notabene beda agama (non Islam).
Ingat peristiwa tsunami Aceh tahun 2004? Nah, Mawar kehilangan kedua orang tuanya karena peristiwa tersebut, mulai sejak itu Mawar dan kakaknya belajar jadi lebih mandiri dan getol belajar agama lebih dalam (belajar memaknai hidup yang sesungguhnya.. gitu ^^).

Kakaknya pun masuk pesantren dan Mawar masuk ke SMA Madrasah, di tempat inilah kami bertemu dan berkenalan dan mulai pertama kali pakai jilbab (terpaksa karena sekolah Madrasah hahaha). Waktu di SMA kami masuk rohis (rohani islam), disitu kami belajar mengenai Islam, tapi maklum waktu SMA masih banyak seneng-senengnya jadi saya dan Mawar kadang pakai jilbabnya masih lepas-lepasan.

Mulai kelas tiga SMA (kalo ga salah *agak-agak lupa*hihihi) Mawar akhirnya mulai serius pakai jilbabnya, ga lepas-lepasan, terus mulai agak-agak strict hehehe.
Contoh, kalau saya main keluar ga pake jilbab, pasti si Mawar agak-agak marah ke saya, pikiran saya waktu itu “buset kok gitu banget yah” hihihi, jujur saya ga nyaman waktu itu, tapi sekarang akhirnya saya tau kenapa Mawar bersikap seperti itu (sejak saya ikut halaqah T^T).

Kelas tiga SMA mendekati UAN, Mawar yang dasarnya sudah pintar, pede untuk masuk ke UGM dengan beasiswa, dan akhirnya Mawar pun lolos seleksi beasiswa itu.. (keren yah T^T..).Sampai akhirnya kami pun terpisahkan karena kampus dan universitas yang berbeda, saya di Telkom Bandung, sedangkan Mawar UGM Jogja.

Saat liburan semester, saya pulang kampung (Jogja), saya pun main ke kosan Mawar. Tapi saya kaget, lihat teman saya Mawar yang sudah berubah, pakaiannya gamis hitam, ga ketat, jilbabnya gede banget, hitam dan menjulur kebawah, dan teman-teman kosan Mawar rata-rata pakaiannya juga seperti itu.
Lalu saya juga salut dengan Mawar dan teman-teman kosannya, walaupun mereka sibuk dengan kuliah mereka masing-masing, mereka masih tetap bisa mengadakan acara untuk mengajar baca Al-Qur’an ke orang-orang tua dan lansia yang masih belum bisa baca Al-Qur’an (gratis? yaiyalah*).

Saya yang ga biasa dengan lingkungan dan lihat pakaian seperti itu jadi kaget dan ngerasa kalau temen saya ini jadi fanatik (maksudnya kearah yang baik ya..), dan karena saya tau Mawar orangnya seperti apa, jadi saya hormati pilihannya.

Setelah kami sama-sama lulus kuliah, tiba-tiba saya mendengar kalau Mawar akan menikah.. (maaf ga bisa hadir ya T^T). Saya tau Mawar ternyata menikah dengan cara Taaruf.. (yang ga tau taaruf cari di google ya).

Ya! taaruf! Saya yang tiap kali mendengar kata taaruf saat itu pasti terheran-heran “Kok ada ya orang yang bisa nerima calon suami tanpa kenal lebih jauh? kok bisa ya? Terus gimana nanti pas jadi satu rumah? Terus timbul rasa sukanya tuh gimana ya? Terus kalau ternyata sifat calon suaminya ga sesuai yang diharapkan gimana??

Setelah Mawar menikah, saya pun penasaran dengan proses taaruf yang Mawar jalani, akhirnya saya tanya ke Mawar.

Jadi ceritanya, Mawar dikenalkan oleh temannya ke seorang laki-laki asal Aceh juga, sebut saja namanya Bintang. Bintang itu senasib sama Mawar soal peristiwa Aceh itu, dan karena merasa sama-sama senasib, mereka pun tukaran CV dengan perantara sang teman. Setelah sama –sama oke dengan masing-masing CV, akhirnya mereka pun maju ke proses selanjutnya yaitu ketemuan (lagi-lagi harus pake perantara untuk menghindari maksiat). Di pertemuan itu, masing-masing calon boleh tanya apa aja, mau tanya tentang keluarga, visi, misi, kekurangan dan kelebihan semuanya boleh ditanyakan, harus jujur dan terus terang.

Setelah pertemuan itu, Bintang dan Mawar merasa cocok dan mantap untuk lanjut ke proses berikutnya yaitu istikharah dan lain-lain, sampe pada akhirnya mereka khitbah (lamaran) dan menikah. Mawar juga bercerita ke saya kalau mereka sebelum nikah cuma ketemu 3 kali, pertama saat ketemuan, kedua lamaran, ketiga pas nikah. (WOW!! Amazing)

Saya yang mendengar cerita itu kaget dan kagum, lalu saya tanya
Ga takut kah? Pasti ada perasaan gelisah kan?”. Tanyaku.
Iya, takut pasti ada, makannya istikharah, jawabannya itu biasanya semuanya dilancarin, kalau ga dilancarin ya berarti bukan jodoh. Tapi Alhamdulillah semuanya dilancarin.” Jawab Mawar kurang lebih seperti itu.

Sekarang Mawar dan Bintang tinggal di Aceh, Alhamdulillah suami Mawar adalah orang sholeh dan satu aqidah dengan Mawar. Mawar dan Bintang pun sudah dikaruniai anak perempuan yang mudah-mudahan sholehah seperti orang tuanya. Amiin.

Kisah ini bukan karangan atau dongeng belaka ya ^^. Ini asli terjadi sama temen saya sendiri dari Aceh. Ternyata kalau niatnya memang karena ridha Allah SWT semuanya jadi terasa indah ya (T^T) *baru nyadar*..

Yosh!, Makasih yang sudah mau baca. Hihihi ^^

Jaa! Mata ashita nee~ ^^

Advertisements

11 thoughts on “Ketemu Calon Suami Cuma 3 Kali ? (Kisah Nyata)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s